Archive for June, 2011

Ingatan – Surat 3

June 28, 2011

Pagi, Diandraku. Bagaimana tidurmu semalam? Apa kabarmu hari ini? Adakah mimpi baik yang kau temui? Apa yang kau sematkan di hatimu pagi ini?

Sedikit sekali waktu akhir-akhir ini untuk bertanya hal-hal seperti itu. Entahlah, mungkin karena aku terbiasa menghabiskan kata dan pikiran untuk hal-hal dan peristiwa yang tampak besar. Lalu terlupa pada apa yang terlihat oleh diri dalam nanar. Mungkin juga karena ingatan jarang berpihak pada sesuatu yang selesai dengan sendirinya. Sesuatu yang tidak memerlukan segenap daya, sesuatu yang tidak membutuhkan doa. Hingga ia pun tak sering kita sapa.

Apa yang salah dari ingatan? bagaimana mengukur kenangan? Ingin sungguh aku mendengar ada yang berbicara tentang itu semua, Diandraku. Ingatan barangkali membuatku harus menulis hari ini tentangmu, lalu besok ia menghadirkan fragmen lain yang membuatku alpa akan dirimu. Salahkah itu Diandraku? Aku tak pernah mengerti. Sejauh kupikirkan, ingatan hanya menoleh pada berat-ringan kenangan dan tidak peduli akan hal-hal yang tak memiliki ukuran. Dan bagaimana mengukur kenangan dari yang terlontar begitu saja dalam sapaan?

Dulu aku meyakini bahwa kenangan adalah tentang apa yang telah selesai dan apa yang belum sempurna terjadi. Tapi ternyata tidak begitu akhir-akhir ini. Kenangan selalu menjauh dari definisi. Ia datang ketika pikiran mencampakkannya, dan berlalu saat pikiran menginginkannya. Kenangan buruk serupa hantu saat mengingatnya, dan yang baik adalah kita yang menjadi hantu baginya.

Barangkali, apa yang bermakna dari kenangan adalah ia yang membuat kita berbeda dengan dewa. Kenangan bisa membuat kita tertawa di suatu masa, dan membuat kita tersedu di lain waktu. Setiap titik detik pada akhirnya begitu berharga, jika saja kita ingat bahwa ia tak akan kita temui untuk kedua kalinya. Dengan kenangan, maka aku dan kau masih manusia. Kita bukan dewa dengan waktu dan segenap peristiwa yang menyatu. Kita hadir dalam kejadian dan ingatan yang terpilah lagi tak berurutan. Apa yang hitam sedetik kemudian bisa bertambah kelam, dan berubah terang untuk kemudian kita lupakan.

Sebab itu, Diandraku.. Aku tak ingin membahasnya terlalu lama. Aku takut ia terungkap begitu dalam, lalu untuk waktu yang lama ia kan terpendam. Pagi ini, di antara kilas kenangan yang berlarian satu-satu, aku hanya ingin bertanya; Adakah dirimu yakin akan setia, menjadi ingatan yang menemaniku hingga akhir usia?

Manisi, Juni 2011

Kenz

Lanskap – Surat 2

June 15, 2011

Aku menanti hari untukku sanggup melukis sketsa yang kau beri.. Lanskap senja penuh cinta, surya separuh bersinar manja, dan sebatang cemara tua dengan kau dan aku di teduhnya menyilangkan rasa..

——–

Apa kabarmu Diandraku? Kutulis catatan ini dengan restu sebatang rindu. Dalam delik hari yang semakin sunyi, pekik penat yang mengurung diri, dan pelik nasib yang tak kunjung letih mengeja aksara untung dan rugi. Lalu, tahukah kamu Diandraku, selalu ada yang bergema jauh di relungku, bahwa sudah waktunya aku berhenti di dirimu. Sebab perjalanan ini tak lagi sebanding dengan usia dan dayaku. Aku tak lagi memiliki hasrat untuk melangkah karena adamu sudah cukup buat alasanku menutup kisah.

Telah banyak hari untukku menyambangi apa yang berkembang dalam ruang. Semuanya sudah kusaksikan kecuali mungkin separuh doa yang belum terwujudkan. Seperti impian kita menatap lanskap Madrid penghujung malam, dengan sebaris sajak tentang kau dan aku menghabiskan segala dendam. Lalu, di sela itu, kan kuucapkan sekali saja bahwa aku menyayangimu. Dan hanya itulah lirih sajak yang bisa kutuliskan untukmu, Diandraku.

Apa kabarmu Diandraku? Kutulis catatan ini dengan segumpal pertanyaan dan rasa kelu. Masihkah hatimu seperti pertama kita bertemu. Kau yang mengatakan bahwa parasku sedikit janggal, lalu kau tambah dengan simpul senyum yang membuatku tersengal. Masihkah dirimu seperti dahulu. Kau yang membelai kedua bahuku sambil mengeluh tentang diriku yang tak kunjung patuh menjaga tubuh. Aku rindu kamu, Diandraku..

Telah banyak hari untukku memenggal apa yang menggumpal dalam sesal. Segalanya sudah kurelakan kecuali sedikit kepribadian lain dari diri yang mungkin belum kau pahami. Aku ingin bersamamu menghabiskan usia dalam doa, menerjemahkan satu-satu apa yang kita dapati dari luka sebagai isyarat cinta. Lalu, jika sempat hari terisi, kita kan pergi mengunjungi 6 benua yang saat ini hanya kita bayangkan dalam kata. Dan itulah lanskap doa yang bisa kupintakan untukmu, Diandraku.

Aku menanti hari untukku kembali menghirup udara yang kau beri. Di antara semilir dingin yang berhembus di ruas punggungku saat kau dekap diri, sejuk sapa yang kau bisikkan di sela telinga, dan hangatnya rasa yang perlahan menjalar dalam pejam mata.

Apa kabarmu Diandraku..?

Manisi, 2011

_____
R. Ark.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.