Catatan Perjalanan 2

November 19, 2008

14 November 2008.. Seorang kawan menulis padaku begini: “… kelak usia kan patah, dan puisi kembali mengutip darah..”. Aku tertegun, coba memperjelas ucap dalam diri. Seperti menyimak ‘rede’ atau mungkin meredakan riuh di keliling kamar dan moga terdengar bisik hati. Mengapa usia harus patah..? Apa maksudnya dengan puisi mengutip darah..?

solitudeHari itu seharusnya aku merayakan sebuah hari kelahiran. Meski hari terlihat biasa, bagiku itu hari tetaplah sedikit istimewa. Kelahiran adalah sebuah petanda tentang perjanjian pada waktu, pada usia. Bahwa ada yang mesti ditunaikan dalam peran, dipungkas dalam nafas, atau bahkan diusung dalam renung. Dan ia memang tidak harus demikian, walaupun sekali lagi tidak ada diri yang pernah meminta untuk ada. Tapi, di hari itu, menjelang mendung di ujung ubun, ingatan kembali berusaha memungut segala ceceran kenang yang mungkin bisa membantu mengukur tindak diri. Apa yang telah kulakukan selama 25 tahun ini..?

[Rintik menyapa halaman, hawa dingin mulai merayap... seekor kecoa tampak bingung mencari kehangatan..]

Nabi Engking benar, neraka adalah usia dalam diri. 25 tahun berlalu, dan yang terasa hanyalah tubuh yang semakin layu. Belum juga tuntas menjahit luka sejarah diri yang menganga, kini semakin nyinyir dengan perjalanan diri yang tak pernah menuai cita. Dulu aku selalu berpikir bahwa pada usia begini paling tidak sudah ada perihal dalam diri yang bisa kuingat dengan rasa bangga. Bagitupun aku yakin bahwa suatu kelak, harapan dan cita-cita kan menyua tanahnya untuk tumbuh dan meraja. Tapi . . . kembali Nabi Engking benar, tidak ada yang lebih menyiksa selain berteman dengan ingatan pada hari yang dipenuhi hujan. Huffhhh…

[Hujan semakin deras, perlahan kuletakkan sebatang rokok di pojok bibir. Tingkahku sudah persis Chairil Anwar, tanpa rambut keriting tentunya..]

Namun seharusnya memang aku bersyukur. Bukankah separuh usia mesti dihabiskan untuk menjalani karma..? Apa yang kualami hari ini bisa jadi akibat perbuatan masa laluku, atau mungkin membayar lunas satu dosa yang tak pernah kuketahui wujudnya. Paling tidak aku bisa berharap pada waktu nanti, aku tidak perlu bereikarnasi menjadi Abu Rizal Bakrie, atau bahkan seekor cumi, hihi…

[tiba-tiba diri ini seperti ingin menangis. Hari belum usai. Ia dan hari telah berbagi hujan yang sama. Bukan atas beratnya derita yang ditanggungnya, tapi pada angan yang selalu koyak setiap kali ia menghimpun raut kekasihnya… cinta memang brengsek..!! ]

Lho ko kesana..? Sudahlah apapun itu, di sedikit catatan ini aku ingin berbagi surat pada diriku sendiri. Bacalah ia mungkin ada yang terkikis dari lupa, simaklah ia dan kelak tersurat sejengkal makna.

Untuk diriku sendiri . . .

Dulu . .
1896, seorang penulis bernama H.G. Wells menerbitkan kisah imaginatif “The Island of Doctor Moreau” tentang pulau terpencil yang dihuni binatang berbadan manusia, karya pisau bedah ilmuwan berambisi sinting: Dr. Moreau. Orang Ini bahkan bukan hanya mencipta mahluk-mahluk mengerikan yang mematuhi hukumnya, tapi memuja dia sebagai Sang Pencipta: He is the Hand that makes, Hes is the Hand that wounds, He is the Hand that heals… Doctor Moreau adalah mimpi buruk horor ilmiah; bahkan pengunjung pulau itu pun asing terhadap dirinya sendiri dan kehilangan kepastian: mahluk apa ia sebenarnya?

Singkat kata, dalam imajinasi paling gelap pun, Wells mungkin tak pernah membayangkan, bahwa seratus tahun kemudian para ilmuwan ternyata tidak perlu pisau Moreau untuk mencipta mahluk sesuai selera. Cukup lewat pemahaman rinci atas DNA, para ilmuwan bisa membaca perintah reproduksi mahluk hidup bahkan belajar menuliskannya. Siapa yang dapat belajar menulis bahasa DNA, dapat pula belajar menyusun perintah genetik untuk merancang mahluk hidup; lalu pintu bagi manusia memainkan peran Tuhan pun terbuka . . namun tulisannya ini ternyata adalah khazanah inspirasi para ilmuwan penemu rahasia DNA, sebuah hal yang dulu oleh Wells hanya diimajinasikan lewat tulisan.

Bla… bla.. bla..

Kamu tau, ada banyak orang besar, ada banyak peristiwa besar yang semuanya hanya bermula dari sebatang pena. Eiji Yoshikawa, misalnya tak pernah membayangkan bahwa novel Musashinya bisa mengilhami hampir seluruh masyarakat Jepang hingga hari ini (dapat dibayangkan bahwa tidak satupun orang Jepang yang tidak kenal novel ini). Dan itu adalah petanda langsung bahwa ada kaitan tak terpermanai antara tulisan yang menjadi lahan dan spirit inpirasi dengan kemajuan langkah yang berhasil direngkuh.

Hal yang sama bisa kamu lihat wahai diriku pada HG Wells di atas, ia hanyalah contoh kecil bagaimana sebuah tulisan bisa menjadi garda depan tumbuh–kembangnya peradaban. Bagaimana tulisan mampu mengilhami pelbagai tindakan dan penemuan.

Siapa yang bisa menyangka surat-surat Kartini ternyata menjadi sumber emansipasi di negeri ini? Siapa yang menduga catatan harian Ahmad Wahib juga Soe Hok Gie menjadi rujukan ghirah mereka yang merindukan perubahan? Sebab bagi mereka ternyata ada keyakinan bahwa satu pena adalah seribu sabda, sejuta cinta. Satu tarikan pena adalah ziarah panjang kehidupan juga kobar semangat yang mewujudkan harapan. Andaikata tak lagi tersisa untukmu sehelai daunpun di kumuhnya dunia ini, kata Nabi Engking, maka menulislah… (kutipan kunyuk, ha..)

Hanya tentu saja menulis tidak pernah sesederhana itu. Ia tidak sekadar melabelkan rangkaian huruf pada arti yang ingin kamu sampaikan.  Sebab, menulis adalah maklumat eksistensial; sebuah upaya pewartaan diri pada dunia. dan dengan ‘ia’ maka langkah terus terjejak, bumi terus berdenyut, bahkan aku, kamu mereka, air, api, tanah, batu, semesta, hidup, peradaban, dan cinta senantiasa setia nyata.

Menulis bahkan bagi kamu harusnya adalah semacam momentum tentang fairyvearth untuk meletakkan sedikit penat, menjemput lelap. Melupakan ledakan hasrat hidup yang liyan. Dan sisanya, mengutip Wittgeinstein adalah diam.

Dalam menulis terdapat sejenis sikap amorFati. Ada pengalaman tentang aleitheia. Ia adalah maqom laiknya thouzand sunny; peraduan tempat tetirah jiwa. Ada keanggunan yang kan membayang di sana. Dan hidup kiranya hanyalah jerih untuk mencapai hal tersebut, meski kadang terluka. . .

Dan akhirnya menulis adalah sebuah pengalaman tentang kelahiran kembali. Sebuah pengalaman tentang keterbukaan diri pada hidup, cinta juga Tuhan. Maka, pena ini sekadar perlambang bahwa aku ingin kamu diriku abadi dengan itu. Hingga kelak usia tak akan pernah patah, dan puisi yang masih tersisa tak perlu mengutip darah. Cukup menjemput hujan dan sedikit kelunya bahasa lisan.

Selamat ulang tahun untukmu diriku..!!

[tiba-tiba aku ingat film Rano Karno zaman dulu waktu dia ulang tahun. Sebiji tahu goreng ditusuk dengan sebatang korek, lalu dalam gelap ia nyalakan sebatang korek itu, dan ditiupnya sambil berucap pelan (mungkin diam) sendirian: selamat ulang tahun diri...]

Tags: , , , ,

10 Responses to “Catatan Perjalanan 2”

  1. pediaspora Says:

    ……juga seperti INTISARI yang selalu menjadi inspirasi bagi semua tukang becak agar betisnya senantiasa kuat mengayuh pedal demi “bertahan hidup”…..

  2. peristiwa Says:

    mau koment apa ya, semua isi tulisan saya menyukai *halah*..
    oya, ikut sedih atas berkurangnya umur km.. :mrgreen: tapi kita ternyata seumuran

  3. frozen Says:

    Selamat mencintai takdir…
    Selamat mencintai takdir..
    Selamat mencintai takdir.
    Selamat mencintai takdir
    Selamat mencintai takdi
    Selamat mencintai takd
    Selamat mencintai tak
    Selamat mencintai ta
    Selamat mencintai t
    Selamat mencintai
    Selamat mencinta
    Selamat mencint
    Selamat mencin
    Selamat menci
    Selamat men
    Selamat me
    Selamat m
    Selamat
    Selama
    Selam
    Sela
    Sel
    Se
    S
    -
    .
    .
    Dan kelak kita akan sama-sama habis dilindas zaman,
    Terhapus masa, dan kita bisa sama-sama abadi…
    .
    Selamat harlah, sobat…

  4. andry Says:

    selamat ulang tahun kawan.. aku adalah memorimu dalam kesunyian ruang gerakmu…

  5. verlita Says:

    met ultah met ultah…maaf telat mengucapkan…

  6. Buledz Says:

    Wilujeng Milangkala Wae ….

    Iraha atuh urang ngariung deui Ha…ha….

  7. hileud Says:

    eh aku sih ngucapin ultah kamu pas harinya bukan… tgl 14 November… itu jg krn kamu ngingetin he he…
    malam ini gw tlp kamu untuk ingetin untuk traktir ultah kamu dgn beli-in gw t-shirt … kamu kan dah janji…

    well… Happy B’day dear Arken, wish U all the best and wish U luck !!!! Be a better, wiser, richer and smarter person…. ever !!!!!

    We’ll love U Muuuuuuuuach ;D

  8. gayatri Says:

    Hi… lam kenal ya.. dapat alamt ini dr temenku, tulisan kamu enak dibaca… nulis terus yang banyak yah…

  9. Michael Tim Says:

    I love your site!

    _____________________
    Experiencing a slow PC recently? Fix it now!

  10. fleur Says:

    biru dongker


Leave a Reply