Tuhan..
Kadang aku ingin bertanya: dalam dunia apakah aku hidup sekarang ini..? Jalinan kehendak-Mu yang seperti apa yang melingkarinya..? Bagaimana aku memahami semua yang terjadi? Tapi itu tak pernah berani kuajukan. Karena aku mungkin terlamapu takut itu bisa meremukkan gagasanku tentang diri-Mu.
Tuhan…
Tapi masalahnya: Aku berdiri di altar dan hari yang dipenuhi sesaknya ironi cinta dan kamarahan-Mu. Entah harus bagaimana mengimani diri-Mu dalam kondisi seperti itu. Lintang hidup sekitarku sesak oleh tragedi rumitnya menuntaskan emosi. Apa gerangan yang menyebabkan seperti ini..? Sementara oleh kesetiaan pada anggapanku tentang diri-MU, aku diam-diam telah menjadikan-Mu Tuhan yang menjaraki benak dari semua jawaban, bahkan kemungkinan.
Tuhan….
Mungkin sebagian besar peristiwa bisa teruraikan oleh sucinya ayat-ayat dan petunjuk para penafsir-Mu. Tapi itu kurasakan hanyalah menjadikan hadirmu bak singularitas tanpa cerita. Lalu tiba-tiba aku hanya harus yakin bahwa dari sana ruang, waktu, materi energi bahkan pertanyaan ini lahir. Dan percayalah..! titik. Maaf, aku tidak bisa seperti itu.
Tuhan…
Tidak ada keraguan pada diri akan keagungan-Mu. Tidak ada kebimbangan dalam hati tentang ke-Mahaan-Mu. Tapi, hidup ini terlampau singkat dan silap untuk ikut terlibat dalam renungan yang panjang akan diri-Mu. Apakah aku cukup berharga hingga Kau beri kesempatan hadir di dunia ini..? Ataukah ini sekadar pemenuhan takdir yang tak bisa kutolak bahkan jikapun itu menjadikan diriku ‘hitam’ di depan-Mu..?
Tuhan…
Begitu banyak doa yang terucap, puji yang tersurat, bahwa Engkaulah yang mampu ‘mengombang-ambingkan’ diriku. Jikalau itu tak Kau kabulkan, kuterima ia dengan seluruh rasaku. Bahwa semuanya hanya milik-Mu, dan tentu Engkau bebas menentukan kehendak-Mu. Namun, maafkanlah.. aku yang sering tak sabar, terus menggerutu dengan anugerah-Mu, terus menolak apa yang mungkin terbaik bagiku. Bukankah semua ini juga dijadikan oleh-Mu..?
Tuhan…
Parasmu tak pernah kutatap, sementara semesta-Mu terus kucecap. Hadirmu tak jua terlacak, meski syukurku terus kurawat. Aku terkadang ingin mengadu, namun hanya bisa tersampaikan dalam hati di tepian telapak tangan yang terangkat, entah diri-Mu ada di mana saat itu. Aku hanya terus berusaha yakin dan percaya bahwa Engkau telah menampung segala keluhku.
Tuhan…
Kata orang, yakin berawal dari hati yang pasrah, bukan rasio yang gelisah. Tapi aku di sini, bahkan tak pernah tau mana teriak benak dan mana suara hati. Engkau tiba-tiba saja ada di sekitarku, di hidupku, sementara aku tak pernah mencari-Mu (tentu saja Engkau juga tak akan begitu saja mendatangiku, bukankah Engkau tidak membutuhkanku..?). Apa yang salah di teguhnya yakinku..? Adakah yang keliru di rumamnya benakku..?
Tuhan…
Ada banyak orang yang begitu berhasrat untuk menjaga-Mu, menyucikan nama-Mu, bahkan mengunjungi rumah-Mu. Atau barangkali berdagang dengan kalam-Mu. Tapi aku entah kenapa tidak jua bisa seperti itu..? Apakah ini memang takdirku ataukah pilihan hidupku..? Jika ini menyesatkanku, maafkanlah ia.. Jika ini tertuliskan sebagai jalanku, sempatkanlah tersenyum kepadaku. Sungguh aku tak pernah berniat apalagi berharap menjual sesuatu dari anugerah-Mu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan dalam hidupku.
Tuhan…
pada akhirnya, semua terserah padamu. Aku yang begini adanya, dan kehendak-Mu yang entah seperti apa. Namun, tuntunlah aku, sebab aku juga ciptaan-Mu. Jagalah hidupku dan jangan sering kau olengkan perjalananku. Jika kau bercanda, jangan yang kasar-kasar, sebab umat-Mu yang seperti ini mungkin hanya aku. Jangan kau batasi apalagi mensyarati keluasan rahmat-Mu, karena aku jelas tak setangguh nabi dan malaikat-Mu.
bersambung…

August 28, 2008 at 8:58 am
Kasihan Tuhan yang Anda seru, didakwa habis-habisan oleh mereka yang mencari-Nya, dinyatakan mati oleh para filsuf, disebut tahayul oleh para ilmuwan, diseru-seru di jalanan oleh manusia-manusia yang marah pada kenyataan, dicintai oleh spiritualis yang eskapis, diejek-ejek oleh ateis yang intoleran, dan sekarang ia harus mendengar keluh kesah Anda. Saya tidak yakin Ia mendengar, atau memperhatikan. Tapi, yah, tidak tahu juga sih. Semoga beruntung.
August 28, 2008 at 3:41 pm
hehe… mas, saya lebih memilih beranggapan kalo tuhan saya g akan kerepotan mendengar keluhan ini, toh dia sesekali pernah berbisik gini: “jangan kuatir, aku sebenarnya cuma pura-pura ada..”…
[langsung tancap gas... sapa tau ada malaikat yg nulis engga2 ntar dilaporin sama tuhannya orang-orang...]
August 29, 2008 at 8:54 am
biarkan tuhan mewujud menjadi wanita penghibur bagi mereka yang bosan dengan istri-istrinya…biarkan tuhan mewujud meja billiard bagi mereka yang penat dengan urusan kantornya….maka, biarkan pula tuhan mewujud menjadi sebotol vodka mix bagi si arken yang terus menerus disakiti oleh pacarnya…ahahahahahaha
September 1, 2008 at 5:48 am
Padamu Tuhanku aku mau berserah diri padamu …
November 11, 2008 at 10:08 pm
nah, kalau sudah dikomentari Mas Gentole, jadi serba salah keknya
November 12, 2008 at 12:09 am
Salam Kenal terlebih dulu dari saya yang masih muda, saya sufi muda
Saya jadi ingat sebuah Firman, “AKU sebagaimana sangka hamba-KU”.
Bagaimana persepsi kita terhadap Tuhan begitulah persepsi Tuhan terhadap kita….
Menurut saya, Tuhan itu baik buanget
November 12, 2008 at 4:29 am
Tak kan ada yang menimpa hidup ini
Selai yang kau kehendaki
Segala sesuatunya sudah menjadi
Suratan takdir Engkau wahai kekasih
Tetapi berilah dan tanamkanlah
Di dalam diri ini
Takdir engkau yang menurut Engkau
Terbaik bagi ku
((
Tuntunlah selalu di dalam
Aku melangkah hingga tak tersesat di jalan
Karena Engkau jua kekasih
Aku bisa selamat sampai pada tujuan
Dan kuminta kepada_Mu
Wahai kekasihku berilah petunjuk
Dan Hidyah
Sebelum Engkau berkehendak
Atas didriku
Hingga aku mengerti dan memahami
Atas segala tindakan dan perbuatan Engkau
Pada diri ini
*Salam sayang kekasihmu*
(Hamba)
November 13, 2008 at 9:19 am
Tuhan itu suka bercanda dan menyenangkan..
.
salam kenal deh…
.
[maap OOT ]
April 10, 2009 at 4:08 am
kasihan tuhan, nasipnya tragis banget..
padahal di jendela kamar saya dia sering banget ngintip2 mau datang n ngobrol2 ma aku.
tuhanku yang ini pemalu banget!!
aku tunggu deh, mau ikut gak? ngopi2 ama tuhanku…
October 6, 2009 at 8:33 am
terus mana sambungannya, Ken? Tuhan baik hati dan nggak sombong kok… justru hambanya yang sering berasa lebih hebat dan lebih suci dari Tuhan hingga merasa berhak menuding orang yang bukan2… iya kan? jadi, Mas Gantole, santai ajalah… Dia -seperti yang sufimuda bilang- memang seperti sangkaan kita… jadi kenapa harus menyangka Tuhan tersakiti selagi kita masih bisa membayangkan Tuhan sayang dan cinta pada hamba yang ngambek dan merajuknya dengan kebawelan anak pada ayahnya? yuk, berbaik sangka aja padaNya…