Musim Gugur nan Sunyi

August 4, 2008

Hari ini kuawali dengan perasaan yang seperti hambar. Padahal biasanya pagi selalu berhasil menyimpan semua perasaan dan pikiran yang kalut oleh masalah. Atau jangan-jangan aku tidur di bawah ketiak Jin tadi malam, huhhhh… Tapi, sudahlah bukan itu yang ingin kutuliskan di sini.

Kali ini aku ingin berbicara tentang semestinya. Tentang apa yang harus namun terbuang dan terlupakan. Tentang yang tak tertunaikan, lalu menjelma keputusasaan dalam diri. Ceieeee…, lama-lama aku jadi penyair juga neh, hehe… Atau (serius) sederhananya begini, dalam beberapa bulan terakhir ini ada beberapa rencana hidup yang kujalankan. Ga terlalu banyak see, cuma memang rencana itu sudah kuniatkan sejak lama. Aku tidak akan berbicara apa rencana dan apa yang sudah kulakukan untuk mendukung keberhasilan rencana tersebut. Itu rahasia, hehehe.. Yang jelas, itu tidak akan berpengaruh ataupun menggangu hidup kamu orang lain.. Nah, dari sini justru masalah itu bermula.

Menjalani hidup apa adanya, menerima baik dan buruknya, susah dan senangnya, memang sepertinya mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Kadang aku bertanya, kalaulah (seperti diriku kemaren2) berniat untuk melakukan A, karena aku melihat ada peluang di titik A dan memang sepertinya A ini menghampiri diri sebagai kesempatan yang tidak boleh kulepaskan, lalu seluruh pikiran, semangat, dan tindakanku kufokuskan pada A, seharusnya aku akan mendapatkan A itu. Aku yakin teman-teman dan seluruh orang pintar setuju akan hal itu, lepas dari persyaratan yang diajukan. Sebab dulu rasa-rasanya ajaran “The Secret” udah menyebutkan bahwa kalo aku sudah mentotalkan diri pada sesuatu, maka semesta juga akan membuka setiap peluang yang mendukung sesuatu tersebut. Nah, justru yang terjadi pada hari-hari ini entah kenapa adalah yang sebaliknya. Kerjaan yang menghilang, harapan yang menguap, kesempatan yang terbuang, atau bahkan usaha yang percuma. Hmm.. sepertinya lumrah bila aku berpikir bahwa ajaran-ajaran yang dulu kuyakini tentang keberhasilan diri seperti itu cuma ibarat mimpi. Hadir sesaat dan membuai diri, lalu sebelum sempat dinikmati ia sudah pergi. Bullshit pisan..!!

Niat, usaha, plus doa, gitu kata orang tua biar aku berhasil dalam hidup. Atau kalo kata cendekia jaman sekarang 3 hal tersebut ditambah dengan investasi dan evaluasi, (aku sendiri ingin menambahkan jauhkan benda-benda seperti tali, baygon, silet, juga Ryan Jombang, biar kalo gagal ga bunuh diri). Nah, itu memang terbukti pada banyak orang. Cuma memang tidak semua orang bakal seperti itu. Kalo sudah berurusan dengan doa biar upaya dan cita-cita tercapai, biasanya sebagai orang Timur aku pasti melibatkan Tuhan, tapi persoalannya adalah ada begitu banyak orang miskin di Indonesia, ada begitu banyak penderitaan, kelaparan, keputusasaan, kejahatan, yang itu semua membuat doa dan keyakinan diriku selalu hadir dalam nada ritmis. Antara keyakinan bahwa Tuhan bakal mengabulkan permintaan, tapi juga perasaan bahwa aku terlampau naif bila berkeyakinan seperti itu. Sebab pada kenyataannya yang terjadi memang selalu berkelit dari harapan dan apa yang sudah dibayangkan.

Ah, pada akhirnya satu hal yang bisa kupercaya hanyalah bahwa hidup tak selinier yang kubayangkan. Dunia dan drama kemungkinan yang terjadi di dalamnya, tidak selalu sebagaimana gambaran para filsuf dan orang-orang suci. Keberhasilan adalah musim semi yang berada di antara fakta dan mimpi, sedang kegagalan itu pasti. Sementara kedamaian diri dan kasih-Nya adalah musim gugur yang kadang terlampau bersyarat dan begitu sunyi. Entahlah…

Tags: , , , ,

4 Responses to “Musim Gugur nan Sunyi”

  1. Gibson Says:

    Para filsuf dan orang suci pada umumnya adalah orang yang sangat akrab dengan kegagalan. Kegagalan selalu menyapa di setiap tikungan jalan yang mereka lewati. Yang membedakan mereka dengan kita adalah karena mereka selalu memberikan senyuman termanis disa’at berjumpa dengan dengan kegagalan; Dan menjabat erat keberhasilan, namun selalu terlempar pertanyaan dari mulutnya, “Kalau boleh tahu, siapakah anda?”.

  2. kikok Says:

    musim hanya sekedar lewat..berulang-ulang..
    sama aja…
    sekarang tinggal gimana caranya aja kita bisa survive dan tetep semangat ngelewatin setiap musimnya…
    caiyoooo !!!!!!
    ^_^

  3. pedz Says:

    ah kawan….terlalu manja jika kita selalu mengharap….

  4. El-RydHoe Says:

    ya..semuanya memang sunyi..semuanya memang sepi..
    entahlah, tapi menemukan keramaian bukan berarrti mematikan kesenyapan tapai bagaimana kita dapat mengendalikan kesenyapan tersebut, jadi bukan meniadakannya…
    he..peace brow……!!


Leave a Reply