Untuk Ibu Pertiwi; Sebuah Renungan

July 29, 2008

DOGGY……Warrrruuujkdh Dhfgbl.

Inilah ‘Libido Masokis Bahasa’ dan ‘Rasio Sarkatis’. Menajam dan mengerang tanpa kondom-kondom moral.  Berpaling dari ideologi masturbasi ke dalam neurotisme-vandal. Saat kenyataan dan fakta keseharian adalah kejalangan binatangisme, setanisme, onani kemerdekan, bualan kesejahtraan dan dusta kebudayaan!. Terinspirasi pornoaksi dan parodi sensual ala yang memulas seks dalam retorika seni aksi. Terinfeksi moralitas Teletubies yang diadopsi dewan legislatif di MPR-DPR!. Terbius kerlip etalase yang menikam otak dengan belati harga dan megalomanisme-marketing!. Teriris jerit jelata yang diinjak dan dicaci keseronokan sistem pemerintahan!. Mari kita teriakan ayat suci dari kitab balangah: ANJING! ANJING!

Menjadi anak dari sebuah ibu pertiwi tak lebih dari sekedar konstruksi genital, Babi!. Morfologi purba, nudisme yang dianut Adam dan Hawa saat mitos sorga firdaus merajalela. Memaksa bangsa memburu payudara dan selangkangan tanpa dijurigi kedunguan dosa-dosa profan. Terkungkung ruang waktu yang menggenangkan muncaratan sperma pada peta-peta sejarah manusia. Terpenjara kebegoan oral falsafah hidup. Terbusukkan oleh desah senggama ideologi yang diperkosa sistem dan kuasa. Berpaling dari ideologi ke masturbasi. Epistemologi politik, political will, sistem pemerintahan, ideologi dan kekuasaan  selalu saja diucapkan dalam bentuk kobaran api, perang, penindasan, penghisapan, pembodohan dan penipuan nasional. Legalitas dan stabilitas diselendupkan dalam aroma darah. Membungkus nasionalisme dengan wabah kebobrokan yang menggurita. Kesetaraan semu dibalik catatan kelam ketergantungan, tunggakan (k)utang IMF, kejalangan korupsi, rekapitulasi proposal yang mengatasnamakan rehumanisasi dan produksi SDM – SDA – SDG (Sumber Daya Gaib). Pembangunan, pemerataan dan pemberdayaan selalu meminjam kosa dan paradigma CULAS. Pengulangan kebohongan Cendana saat mereduksikan moral dalam kengerian akar-akar Beringin yang mengingkari setiap romantisme ereksi yang kritis, membunuh ejakulasi kontol-kontol pemberontakan. Kegoblokan terbesar adalah mempasektomi eksistensi “Kiri” dan menutrisi “Kanan” dengan kursi kuasa.

Pertiwi sekarang lebih mirip tempat sampah. Kotor, busuk, belatungan! hiruk pikuk pasar disesaki gelandangan dan copet, orang gila dan anak-anak usia dini berkeliran mencari koin di perempatan, kelaparan di pelosok-pelosok desa, kekeringan, musim paceklik, putus sekolah, regresi militer atas masyarakat sipil, ketimpangan gender, impotensi hukum dan keadilan, kejahatan struktural, korupsi politisi + para mentri, narkoba – seks bebas di bangku sekolahan, pengangguran, campur tangan politik global, intimidasi Dedemit Yahudi, campurtangan ekonomi dunia-World Bank, kelemasan eksistensi di tubuh Globalisme, produk import di bawah standarisasi konsumsi, ketertinggalan kualitas otak sebab kurang gizi, Gedung aspirasi bernama MPR DPR cuma bisa menjadi wadah apirasi yang menampung suara onani. Apakah semua itu belum cukup untuk membuka mata kekuasaan?. Keangkuhan dan kebisuan negara + pemerintah + sistem Kekuasaan adalah kerinduan pada LEDAKAN MOLOTOV dan BOM RAKITAN. Ngarti teu Bagong?!?!

Menunggu adalah kejemuan yang memaksa bangsa membusuk, terkutuk dan terpuruk. Bungkam, hanya menebalkan dosa-dosa. Menyerah, berarti tersungkur dengan kebejatan yang sama yang dilakukan pembejat negara. Tak ada tempat untuk membiarkan catatan merah dalam laju sejarah. Hiruk pikuk ke-bangsa(t)an ini adalah anak-anak yang diadopsi dan dilahirkan oleh kecoa-kecoa Ideolog sok nasionalis, demokratis dan karismatis yang dengan segera harus kita maki, caci dan tertawakan. Sebab melawan dengan kekerasan dan peperangan adalah ketololan militeristik yang harus dipetimatkan. penindasan dipindahtangankan ke tangan orang-orang pribumi yang terkontaminasi, terinfeksi barbarisme dan kultur barat laknat-hianat. Konsideran dan manifesto kemerdekaan tak lebih dari sebuah cekik dan jerat atas setiap angan-angan jelata untuk membawa nusantara mengecap mahardika. You know that: bangsat!.

DOGGY……Huaaaaaahhgrrrrrr?!

Realitas sosial – komunal, cita altruistik dan semangat SALOME selalu saja digelapkan, dipudarkan dan dikeruhkan bisik-bisik DAJJAL dikepala Sang Radja. Sementara: derak-derak rumah kumuh yang runtuh menjadi logika formal untuk kepentingan tata kota. Rakyat jelata dibawah garis kemiskinan dininabobokan oleh suplai sembako dan raskin yang kurang gizi (RASKIN = beRAS di-Kapur-IN). Gelandangan dibiarkan menjadi Performance Art. Anak jalanan dan tunawisma dijadikan bunga-bunga trotoar, reklame moral yang mati membatu. Pengamen dan maling kambuhan menjadi sinema tanpa royalti. Premanisme diadopsi dan dipayungi untuk keperluan taring kuasa. Sampah dan limbah bukan perkara penting bagi sanitasi. Newmonth mencekik Buyet, mencambuk hati dengan temali kutuk Minamata. (KALIAN AKAN MATI DALAM LEMPARAN  BATU API ABABIL).

Perundangan tentang buangan limbah kimia cuma gumam dan igauan, membuat manusia kudisan, penyakitan, budukan, hapuran memadati sungai cubluk dipinggiran Kota Jakarta. Setiap tahun kebanjiran dan menghukumi Bogor yang diacak aspal dan bangunan pemukiman tanpa menggebuk PEMDA untuk anggaran pembenahan DAS dan pemberantasan Malaria yang ketagihan DDT. Membunuh ekologi atas nama ekonomi. Begitu juga media tersungkur dalam aroma busuk  ketek Kuasa, dalam tumpukan harta dan biaya satelasi. Kebo Bego Perjuangan cuma meringis-ringis, berkubang di lumpur rasionalitas yang beku, dibatukan ‘moralias es balok’, bisu!. Pemerataan  kesejahteraan terlalu Jawa sentris – Jakarta sentris: timpang, jalang!. .

Kemelaratan buruh tak pernah digubris, dibiarkan tergeletak menjadi rongsokan di sisi mesin-mesin produksi dipadatkan karat dan tai Beurit. Industrialisasi dan teknologisme mercusuar sebuah langkah tanpa perhitungan memaksa harga pupuk melonjak di pasaran dan petani kehilangan tanah garapan termiskinkan, kehilangan lahan pertanian hingga 40 % (agraria adalah MAGNUM OPUS nusantara). Ketimpangan sosial-kultural-politis antara buruh dan pemilik modal adalah manifesto perut serakah, buncitisme gerombolan Si BABI Babah Liong, Babah Ngamuk. Sebuah dinasti!, prasasti!, monasi! (maksudna ‘monumen’) atas kematian: hati anjing nurani!. Ribuan TKI telantar dan menjadi anjing di negeri orang, dileceh-in, dibego-bego-in, di-goblok-goblok-in tapi malah di-BIAR-in. Detak jarum jam perusahaan, kantoran, membuat buruh terbusukkan kebinatangan sistem kerja, tanpa kuasa memasukan pasir ke dalam roda-roda mesin atau menggodam muka pemilik modal dengan martir. Hei..babi-babi pabrik yang berdiri dibalik meja dan kursi kepemimpinan, kalian ditunggu api neraka.

DOGGY……Tfsaerfn Liojgjhd!!

Spiritualitas dan moralitas religi adalah outburst absurd, signifikasi ID yang kehilangan Fantasi seks. Atas nama dewa, milisi-anjingbagong-jimat merapatkan Zakar melampiaskan libido dengan membakar, merusak, mengutuk Pelacur dan hingar bingar diskotik. Menyangkal rasionalitas demi ketololan moralitas ORBA yang mempercayakan laju pemerintahan pada jampi-jampi, dan ayat suci. Apa bedanya metafisika (nilai moral, religi, spiritualitas dll) dengan illusi jadi-jadian Houdini dan Courbuzier: Manipulasi!, Kesadaran Bunglon, sarana menjadi Destarata. Seperti repetisi senyum yang diumbar CAPRES di mimbar massa, dipadati hyppyerbolisme, mimikisme, wadulisme  orasi Onani!. Gerombolan “Pergerakan” Mahasiswa, LSM, Organisasi Sosial politik atas nama kebenaran, moral dan realisme sosial merampok nafas jelata dengan legitimasi ECHO, microphone dan barisan demonstran. Sebuah dusta yang sama dengan Airmata Buaya artis di bulan puasa!!. Cuhhh!……

Pendidikan menjadi ikan asinan. Menjaring permata di balik kertas ijazah, orang miskin dilarang sekolah, pecundang (Manusia Saleh-Salehah yang mempercayai kesemuan metafisis semacam moral, religi dan aneka mistisme)  mendingan jadi tukang sampah. Manusia cerdas dibuang dalam pembantaian kebebasan nalar. Daya OTAK adalah oposisi, oponen yang ditakuti kekusaan. Akar-akar pikiran yang merindukan kehadiran ‘Hyppies’ dan ‘Nuddies’ terbubuhkan di bangku pendidikan (yang tak pernah belajar-mengajari bagaimana telanjang dan terbebaskan)dianggap sebagai ekstrimisme yang harus diberongkos dan dienyahkan. Buku-buku kontra narasi, counter mainstream, ke-kiri-kiri-an dibunuh oleh kobaran api jahanam. Legalitas dan independensi akademis, digasak, diacak-acak fasis dan penyakit syaraf pemerintah.

Dalam keheningan lembar-lembar buku, peluru M16 masih berkeliaran.  Serangan aparat keparat ke wilayah Kampus dipersilahkan dan dihalalkan. Fasilitas, kualitas dan kelayakan pendidikan tersungkur dalam ‘marketisme bagong’ berwajah pendidikan. Maksimalisasi IQ dibatasi dan dipersulit strukturasi, registrasi, hegemoni, kalkulasi, konstruksi nepotis dan korupsi Anjing Babi!. Anggaran  20 % sektor pendidikan cuma cukup untuk beli TARASI dan Tempe Basi!. Lapangan kerja tidak sesuai dengan presentase lulusan pendidikan. Ribuan manusia diproduksi bangku sekolahan (dengan biaya mahal) pada ahirnya dikemas dalam TONK SAMPAH, dibuang dan dicaci Para Personalia dan keangkuhan standar kerja tanpa kelayakan sarana. Diskursus, paradigma dan metode ilmiah sama-busuknya dengan penyakit Raja Singa!.

DOGGY……Bdvsgn, Ewqryt  Rewsdfex Uiylkjop??

Malam semakin dingin mengalahkan deru Amuk Kapak pada segelas Wiskey. Sayup bujuk rayu perempuan mabuk,  menyeruak dari diskotik berkelebatan mencari sebatang kanjut dan cipratan uang si Tuan pemburu Gonorhoe. Lampu kota yang berulangkali mencatat zinah waria masih saja menawarkan Azhari pada deret imajinasi. Ups…Its all about to be the famoush animal by killing each other. Otopsi luka tusuk, crossline dan TKP orang yang terbunuh tetap tak mengubah penegak hukum menjadi “berwibawa”. Kalian hanya bisa melarikan kasus ke lubang tai si kaya dan menghukumi si Anjing Budug dengan bukti rakitan, alibi dan mulut rakus para hakim: MODAR SIA ANJING!!. Hukum bukan lagi realisme ontologis, rasionalitas epistemologis atau jeruji axiologis. Kesadaran hukum telah Kehilangan makna subtantif sebagai “LIBRASI” dan penegakan keadilan yang equal. Fungsi dan makna hukum adalah duplikasi objektif dalam terma sincansentris, F4-phobia, kerasukan Britney dan terobsesi scene sinema box sampah office. Membuat semua orang dalam hukum berlomba dengan lipstik dan model rambut anjing pudel, berlari menyerbu MH (Meja Hijau) atau MH (Mansion House 45%) mengecap kotoran kecoa bernama PASAR HUNTU. Kekacauan dibenarkan KEJAGUNG seraya ONANI bersama bandit korupsi. Terjebak dalam elegi saat Himura Kensin masih Battosai Sang Pembantai. Normalitas, keadilan dan praduga tak bersalah hanyalah jampi-jampi untuk membangkitakan arwah, setan Mussolini, Hittler dan bangsat-bangsat kebenaran. KAMUFLASE!. “DOR!… DOR!!….DOR!!!….JANGAN BERGERAK!!.

Kesadaran informasi dan psikologi massa yang ada ternyata simulasi rakitan!. Coba pikirin, pilkada sekarang benar-benar demokratis gak? Bukan! itu sampah. Rekrutisme paksa hak suara, chaos berbalut kaos, jurdil ala Bagong. Mengalihkan ketololan KPU dalam mabuk-nasional saat menenggak DRUGS bernama PARPOL. Padahal KPU dan PARPOL sama – sama tolol:  Semuanya TOLOL ANJING!. Impotensi hukum dan keadilan apakah semua itu benar?  Klo ini, emang bener. 100% BENAR!, sebab penegak hukum hanya mampu memborgol dan menggebuk maling sendal jepit, sementara maling duit RATUSAN JUTA malah difasilitasi bagai radja. Kalian pada Bego, Anjing!.  Lembar suci tanpa renovasi UUD 1945, lima ayat Pancasila, hierarkisme pembangunan bangsa, masihkah untuk kepentingan PUBLIK dan demokrasi?. Non sense, BULADIG!. Sekedar liturgi tanpa sayap, tanpa resistensi di depan altar nusantara. masturbasi!. Kepentingan PUBLIC ENEMY, HEGEMONI< DOMINASI DAN TIRANI. Kembali pada kekeliruan yang sama dengan serapah Gajah Mada. Yakni: berpaling dari kesejukan air buah Palapa (kecuali buah dada) dan memilih darah yang bermata air dari; ketololan negeri arab, barbarisme Eropa dan kebangsatan Yunani. Sebuah transfigurasi abadi dari tragika yang diwaris-turunkan eyang kakung nabi (Habil dan Qabil). Hip hip horeee…

DOGGY……Klgirdfg Uwyreto!

Semua paradigma tak pernah mampu merumuskan apapun, kecuali binatang-binatang yang makan uang. Pancaran moral, rasionalitas dan spiritualitas telah mati berdarah – darah menjadi saksi dari setiap bagian tubuh yang terpisah di Tanjung Priok, Poso dan Sampit. Segala harap dan asa untuk meneruskan TBC Kronik Jendral Sudirman memberi pijar pada bebinar mata jelata cuma mainan kata Untuk: Si Balita, petugas POSYANDU (Pos Pelayanan Pe-CANDU) dan petugas SISKAMLING (Sistem Kekuasan Maling dan JALMA TEU ELING).  Lingkar setan adalah TUHAN, kenyataan tanpa jalan keluar. Tidak lebih baik dari KEBALANGAHAN SUMANTO, Figur kosmis yang merangkum rasio, empiria dan mitik secara Clear and Distinct dalam rel-rel fenomologis dan kemasan semiotika yang mengusung ikon pembaharu dan pe-ubah, tanpa meninggalkan lokalitas dan kelampauan sejarah. Seraya menatap lusa tanpa kekeruhan wasangka.  Proyek sejarah ini semakin absurd. Melingkar-lingkar pada jejak kutukan Sisifus, serupa taring kebanyakan fans klub sepakbola: disesaki moralitas keroyokan, impoten di luar kandang, tak mengerti seberapa bulat bola dan seberepa besar kapasitas otak mereka untuk menerima kekalahan tanpa kemarahan. Nihil restropeksi intropeksi. Terjerat dalam glamoritas dan ekslusifisme Mesiass, gemuruh roda-roda mesin, Robotic Cultur dan libido daging mentah. Kehilangan pijak-pijak pada humanic-value, lebenswelth, suara rakyat, lokalitas primordial. TERKUTUKLAH SEGALA BAHASA YANG MELIPAT KESADARAN CACIMAKI MENJADI KESABARAN PURITAN.

DOGGY…… Rxdcrxwc Umylumtl?

Demokrasi, kesetaraan dan kesejahtraan tak pernah memiliki identitas yang tegas. Ruang affirmasi menjadi kenyataan dramatologi memaksa setiap situasi mengabdi dalam parodi sunyi. Hanyut dalam derak suara sepatu dan senapan jalang para tentara saat menggasak mahluk SIPIL atas nama ST(L)ABILITAS. Negasi dan relasi hanyalah fosil mitologi purba, belulang yang ditinggalkan Zaratusta pada Palu Arit Muso-Aidit. Sebuah kemarahan terpendam Malin Kundang kepada sang ibu yang mengutuknya menjadi batu bukan menjadi kontol yang bisa digunakan sang ibu!. Maka adakah sesuatu yang bisa disebut sebagai kenyataan, kesungguhan, kebenaran?. Adakah?. Selain janji elipstik dan moncong-moncong capres-cawapres yang hingar di angkasa dusta, masih adakah teriakan lain?.

Kemungkinan-kemungkinan nasib dan kehidupan sosial-kultural dipaksa menjadi: useless thing to be nothing. Ruang waktu menjadi trinitas kesadaran tanpa eksplanasi dan proposisi logis: kekinian, esok dan kelampauan menjadi terpilin dalam desah-desah ONANI demokrasi Pancasila yang kemudian hari semakin tidak merangkum dan tidak menjadi apapun, kecuali mencipta ‘dimensi imajinal’ (DILUAR AKAL SEHAT) yang mengekspos moralitas chaotic. Terperosok dalam kengerian MANUSIA TANPA DIMENSI. Maka menebas pedang atau mengayunkan dendam, memotong leher binatang berwujud manusia, melempar TAI tepat di kepala jurkam pilkada dan memaki SiSTEM adalah Katarsis, Aufklarung jiwa. Wallohi kebenaran tidak lagi diasarkan pada perenisme tafsir, pedadogi kuasa atau dikotomi modernisme.

Realitas Bukan lagi dialektika materialis, perang tanpa kemenangan (Ujang Bewok Karl Marx). Budaya mesin, kapitalisme, masyarakat industri dan kedunguan dunia ketiga (termasuk NKRI yang mayoritas masyarakatnya berhaluan BOGEM) telah merubah dialektika sejarah kedalam tumpukan utang dan KUTANG(?). Jurang ketimpangan terkamuplasekan oleh kuasa bahasa, sistem tanda dan media massa, diburaman iklan dan sakralisme konsumsi. Keterlemparan (dasein) yang dikerubuti kematian (Martini Heide-geger otak), bukan lagi Arche kenyataan. Kematian sebagai cita ontologis remuk dalam kemungkinan fatal AJI PANCASONA, CYBORG dan pikiran goblok. Kematian terlupakan, kini telah menjadi pasar malam (kepada PRAMOEDYA A.T.), menjadi inspirasi masokis, sebuah rahim duit skenario sinetron. Repetisi kebohongan, penindasan luka dan lara telah menghapus intrusi abadi kematian  dari Hyperaurosoul menjadi hypertensi kambuhan. Kecemasan dan rasa takut paling komunal bukan lagi kematian tetapi: terbatas, terpenjara, terdepak, terlempar dan terasing   dari: (-) persahabatan dengan balatentra Siluman Silemin (-) terputus dalam daftar panjang catatan utang IMF dan (-) terlempar dari bulu ketek USA (-) terhentikan dari berbuat jahat dan penindasan,(-) terjauhkan dari berlaku CULAS dan menyengsarakan jelata.

DOGGY…… Ngati Teu Sia teh..???!!!!

DOGGY……Iddiuf Btrejfxv….hdhadv retwyu. Refvfstja ygjfhg oiotuj  ytfr,  bcvf  vxcfdsfdbkjvb  hjfmgldjgfo kjgiu cczcfda zpozpzsdkj. Hgfsh. Everything Anjing! Anjing! Anjing!

Tags: , , , ,

Leave a Reply