Religiusitas Edan

July 29, 2008

Manusia? itu parasit, tahu!! yang menghuni di setiap tiang kehidupan, atas pengalaman membuatnya tak ingin lepas dari rasa memiliki. merupakan sebuah konspirasi baru dari berbagai momennya. Lantas apa yang patut dihargai bagiNya ? Duka Atuh Anjing!!. Berdiri diantara batu Institusi, Sistem Nilai (etika), karakteristik Pemikiran, dan diakhiri oleh Ibadah sebagai almamater sakral yang membuat objek persembahan. Maka tersebutlah satu legalitas Religi. Kenapa gitu? Tidak!!. Tetapi Dengan legalitas Religi yang berwajah serius menuntun sebuah harapan dan keinginan serta pencerahan di alam berikutnya. Wadhuk!! Kondom sebagai penawar dari kecemasan, kesesalan yang selalu menghantuinya, terutama setelah segala konsepsi nyeleweng dari gagasan instrumental. Lebok goblok!! Aing oge nyeri hate ibarat mesat silet dari lubang anus. iihhh linu, bayangkan dulu. OK (siga nuhayang sia mah!)

Maka dari segala upaya secara tidak langsung, kausalitas dari kenyataan menjadi lebih berlangsung dan melaju kata, mensintesa bahasa, membatistuta makna. Unuk akan hal inilah suatu legitimasi dari erlementari Chaotic (kekacauan) di dunia. Hal inilah yang membentuk suatu pirmid Sakral yang megah meruah. Huah huah huah 20X (ulang) hoyah. Dengan melajunya waktu dalam ruang dan keyakinan yang mencandu, ide-ide itu diwariskan kepada anak-anaknya untuk selau mengaktualisasikan sikap (ritual) penyerahan dan ketundukan terhadap hal yang diangap transcendent. Dengan ini mereka mersa hidup damai, Benarkah itu? Aah Kataaanya, baleg beubeul !! Padahal biasa-biasa bae.

Sebuah legalitas yang telah ada dihadapan kita yaitu satu bangunan kokoh yang bernama lembaga moral (religi) politeis, panties, monoteis, atau apapun, dengan senyuman meseum siga Jurig huntu yang terlahir dari puing-puing sejarah ranting–ranting keserakahan primordial. Penghayatan dan permainan logika cendikiawan, artis dengan sandiwara murahan di bulan ramadhan, menjadi suara alasan rasionalisasi dan internalisasi dari tindakan. Padahal tiada lain dari apologi apriori dan basa-basah. Penjiplakan kesadaran dari ketidak warasan nenek moyang (aki, nini, indung bapak aing dan semua yang terlibat sory yah Sia teu kasebut ) untuk tindakan berdusta sebuah bentuk legalias yang sewajarnya dikececet. kreek …(dipeuncit ku juagal)!

Zaman Modern melahirkan rasionalis abis, kepercayaan terhadap tuhan menjadi monoteis yang berkelas karena masa yang begitu banyak minat mupakat berkarat, merupakan wadah untuk proyek jangka panjang dalam kancah pencabulan intelegensia, adalah kaderisasi suatu dogma-dogma runtah semiotika. Ya! Tak lain Bangsat yang mendapat pengesahan publik jodok. Depatemen anjing entah kapan lunturnya walaupun sumber korupsi meraja dan meratu di institusi ini (sebenarnya mereka itu besok akan Modar), adalah bentuk layak dan meski di caci maki; karena kekuasaannya yang mengkonsumsi banyak bangkai Babi. Layak sebuah merek @ yang diteng-teng pada bahan sandang, dan kalian konsumsi (segala yang sia pakai adalah mungkul lebel dalil surga-naraka). Dikatakan menyungkurlah kalian di lobang anus aroma WC jilat dan nikmati. lumbayan itung-itung Aing mandi coklat.

Rasio bertujuan menjadi tumpuan harapan nilai ideologis ademokratisasi pemasungan terhadap kebebasan seorang subjek banal, setelah berlaku kalian suguhkan berbagai penyelesaian dengan dalih darahnya Halal. Galileo, Halajj, Jenar adalah tumbal, angkat golok penggal segala ketentuan-ketentuan persimpangan gagasan. Mumpung masih basah sebelum terjemur waktu, bantai dengan dalih “kumaha sia” anggapan jemputan yang meng-asikkan. Tak peduli dengan prinsip manusiawi yang penting hukum mati. Bagong ari pikiran sia teh kumaha, aing lieurrr. Tapi Oke jika itu sudah menjadi prinsip yang prinsipil yang haram & najis untuk lepas dari kehendak hati batu, sekarang juga maka tunggu saat yang tepat Tsunami dan Tai aing menghantam meghampiri jejak kehidupan para sperma Abu jahal dan jahiliah.

Seberapa banyak yang akan dikordinir oleh sebuah sekte setiap agama sampai hari ini? Jika intensionalitas adalah pemerkosaan, perampasan pikiran & potensi, guna memperkokoh bangunan organisasi setelah berdiri diatas pondasi fatwa-fatwa yang mengelilingi benak dikerumuni kain sorban apek. Maka religiusitas tak mempunyai tempat yang merdeka, semua dikonstruks, didominasi oleh Intelektualis amatiran kelabakan karir, yang sampai kapan mengagungkan sejarahnya jika kondisi masa kini dan yang akan datang tak lagi mendapat tilikan perhatian. Anjing teh sia.. cik mun hayang DUIT datang ka gunung kidul insyaalloh Modar !!!. & Tidak akan dilepas sikap ini setelah sebutan padanya jurig komersil majalah, jurnal, surat kabar, atau “jago kandang” yang dimuncratkan tepat pada hidung belangnya, maka pakailah indra penciuman kalian dan rasakan bau-nya Anjing!!!

Konsekwensi akan dilakoni setelah terikat dengan satu paham (sekte), terutama ketika pembaptisan telah dilakukan, ilokusi represi melahirkan emosi kekeluargaan serta solidaritas adalah keharusan yang wajib takkan bisa diganti dengan segala upaya negosiasi, karena itu telah meresap dalam urat nadi, gerelo adalah spontanitas manifestasi keyakinan, aplikasi kekanak-kanakan yang menggenang pada lengkukan totalitas hidupnya itulah kebusukan takkan lepas dengan serbuk baik sebagai pemutih paling payah parah.

Negara pancasila memungut seragam doktrinasi dari beberapa teori apriori serta cendikia illegal dengan kebesaran rasionaliti melilit pahit segala persepsi, konsepsi bau apek ketiak new Stalins, koalisi antar kepentingan bercap arbitrasi dan rekonsiliasi, tak henti-hentinya melakukan kolaborasi in the name of Anjing agressif kolonialisasi babi. Kalian bangga dengan apa yang dilakukan kalian terhadap orang lain dikarenakan perbedaan yang diwariskan histories dengan memberangus masa depan, adalah suatu dimensi kasat and hipokrit tak lain parit tempat air cubluk dalil mengalair, jalur pantura beurit (tikus rakus bungkus surplus) berenang santai menuju samudra juru bicara antar dunia.

Maniak nasionalis serta moralis borjuis religius yang mengukuhkan dari terpaan berbagai badai ratu gossip dan publisitas kepongahan corong entertaimen dengan melakukan ritualitas ditempat suci dengan mengesampingkan nilai-nilai manusiawi dikarenakan oleh imej pasif yang keluar dari mulut kaum cendekiawan, maka kerugian kita yang didapatkan di sela-sela pengontrolan itu yang menguntungkan kemapanan institusi agama. Beragama hanya mendapat posisi telur diujung tanduk yang nilai elementernya kini menjadi mekanik politik, media ekploitasi tengik, penjiplakan kesadaran serta titik-tolak tolol-tolol hibridasi sapi dan babi.

Jangan hindari apalagi lari dari kenyataan menampakan bahan wacana ini, walaupun kebebasan mengayunkan tangan untuk bertindak meninggalkan kepekaan ini akan tetapi lawan setiap arus yang terus memburu, terutama bagi mereka yang tak mengenal repleksi hate & gawena memhantui dengan dalih Dosa yang membuat lainnya was-was. Demi kepuasan dan keserakahan kuasa untuk idologisasi organisasi serta basabasi anak ingusan dengan berjuta roman, kaum liberatif mengaagungkan gerakan separatis konservatif bullshit.

Jika nyata! tunjukan padaku mana janji tentang kebebasan, kesetaraan, toleransi, kasihsayang dan kebenaran itu, jika kalian percaya bahwa kebenaran itu “sesuatu” yang Ada atau nyata, maka para kontestan (pesaing) kekuasan saingan Tuhan dengan mengobarkan darah kini telah hadir ditengah hiruk pengap polusi isu dan kentut kalian. Yakinilah apa yang kalian tatap hari ini dan masa yang akan datang adalah para dewa yang memergoki kecemasan dengan iming masa lalu (sejarah) untuk menuju laju singgasana birokratik kejanggalan.

Agama lahir tidak dalam kondisi yang vakum, ideal atau halus kesannya akan tetapi ia lahir ditengah serat oleh nilai, maka masa ini adalah masa yang akurat untuk hal semacam itu, sekalipun (meskipun pada akhirnya membuat tradisi yang akan ribet kembali). Interpretasi kalian yang telah menghegemoni dengan berdiri madzhab membuat bau husuk pada mulut dan lebih bau dari selangkangan anjing yang mengidap penyakit rabies, pengetahuan lahir dari pengalaman .maka mesti dicoba untuk mengetahui rasanya, hakan tah Anjing !!!!!!!!!!!! hahah hahah hahah cuahhhh…. Wassalamm abdi masa lalu dan kawan-kawan..

Tags: , ,

3 Responses to “Religiusitas Edan”

  1. pediasporacun Says:

    ieu tulisan saha anjing…..?

  2. kenz Says:

    ieu nu betty la vea, betty bagong ped…. waaaaaaaaaaa…..

  3. jenat Says:

    AING NYASAR KA TEMPAT JALMA EdaN,modar siah nu nulis UTAR GELENENG,EUNDAG,GEULEUMOh


Leave a Reply