Membaca Derrida

May 22, 2012

Derrida’s essay begins with the word “perhaps,” which signifies that in deconstruction, everything is provisional; you can’t make positive/definitive statements. Nevertheless, I’ll proceed as if you can. This is another key to deconstruction–even as you come to understand that nothing is stable, that meaning is always contingent and ambiguous, you continue to act as if nothing’s wrong…

Saya tidak mengerti mengapa tadi malam saya membaca Derrida. Tidak juga saya mengerti mengapa kemarin saya membaca Eiichiro Oda. Saya tidak mengerti mengapa saya merasa harus membaca. Bahkan alasan mengapa saya membaca ini, membaca itu, tidak saya punya. Apalagi pemahaman tentang apa yang dibaca. Saya ini bebal bin celaka. Otak saya tidak seencer Anis, Anas, Anus, Ruhut, Rizieq, Sri Bintang, Sri Mulyani, bang Ruhut, bang Rhoma, juga Batoegana. Mereka orang-orang hebat, yang lancar berbicara tentang politik, hukum, agama, ekonomi, budaya, dan masa depan Indonesia. Saya udik, kampungan, tidak mengenal apa itu mode, fashion, selera tinggi, gaya hidup, seperti para artis, calon artis, yang merasa artis, dan mantan artis itu. Saya gaptek, tidak pernah mengalami apa itu mabuk teknologi dan berbagai gejalanya. Blackberry, blueberry, acaiberry, atau henpon yang katanya berbasis apa itu saya lupa, android, atau apalah, semua itu saya belum pernah memegangnya. Tidak seperti tetangga saya yang mau makan, jalan, bahkan berak pun sepertinya sibuk ngetwit, apdet status, atau berbagi foto narsis tentang hidupnya. Saya miskin, sengsara, mengkhawatirkan, tidak pernah mencecap bagaimana rasanya keluar negeri, berbelanja di toko anu dengan merk tertentu, menginap di hotel dengan bintang paling tinggi, atau sekadar nongkrong di café, berbicara tentang apa yang akan dibeli esok hari, kontrak dagang apa yang akan disetujui, atau itu atau ini, saya tidak pernah mengalami, saya tidak pernah mengerti.

Saya hanya paham bahwa duit tiga ribu yang ada di saku celana itu harus cukup untuk dua hari. Saya hanya paham bahwa di lingkungan kontrakan ini, di kota ini, saya sendirian. Tidak ada orang tua, tidak pula sanak saudara, karena itu saya tidak bisa hanya berdiam diri atau berharap bantuan dari tetangga. Saya hanya paham bahwa harta yang saya punya hanyalah setumpuk buku yang tidak bertambah sejak 3 tahun pasca reformasi, sarung, karpet, kaos sisa Pilkada, dan monitor 15 inci. Saya hanya paham bahwa setelah Magrib itu saya harus mengaji, mendoakan almarhum bapak yang seumur hidupnya tidak pernah memiliki tv. Saya hanya paham bahwa keyakinan tentang adanya hidup setelah mati dan pembalasan perilaku di dunia ini jangan luntur adanya. Saya hanya paham bahwa ada banyak sekali orang yang berdoa tentang hal yang sama, karena itu naïf rasanya jika harus kecewa karena doa tidak juga menjadi nyata. Saya hanya paham bahwa mantan pacar saya itu lebih baik bersama orang lain daripada mencintai seseorang seperti saya. Saya hanya paham bahwa jika saya terus membaca Derrida niscaya pening kepala saya. Pun jika detik ini saya menuliskan tentang hidup saya, tidak akan ada yang membacanya. Read the rest of this entry »


Basyir & Amir

May 22, 2012

Basyir:

Bagiku sama saja, kelompok manapun, bertiga atau lebih, semuanya hanya persoalan bagaimana menjual dan membeli. FPI, MMI, FUI tak ada bedanya. Tujuannya sama, meski barangkali tinju yang satu lebih kencang daripada yang lainnya.

Amir:

Kurasa tidak begitu. Ada orang-orang tertentu yang masih setia pada misinya. Mereka bertujuan yang tidak semata uang. Mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga nilai-nilai kemurnian tersebut. Dirimu tidak bisa memukul rata. Apalagi seperti kata pepatah, jangan menilai buku dari tampilannya. Adapun jika mereka membentuk kelompok, dan terlihat seperti menyaingi kelompok yang lain, itu karena dengan berkelompok maka tujuan semakin mudah dicapai.

Basyir:

Ah, omong kosong! Satu kelompok muncul adalah karena mereka melihat peluang yang sama dengan kelompok lain soal peluang. Persaingan itu adalah persoalan negoisasi, nilai jual, dan tenaga yang mereka punya. Kalo perlu mereka pura-pura bentrok, atau bentrok beneran dengan kelompok lainnya, bertengkar di media, lalu muncul wacana, bukankah itu promosi gratis? Paling tidak, semakin dibicarakan, semakin tinggi nilai jualnya. Dan ujung-ujungnya duit! Duit bro! tidak ada yang lain… Satu orang barangkali punya niat mulia, tapi ketika ia berkelompok, maka ia memiliki kekuasaan. Tidak perlu aku sebutkan bahwa kekuasaan cenderung korup bukan? Tidak ada itu misi suci, atas nama apapun, nilai-nilai ideal, seni, agama, ideologi, yang ada cuma persoalan fulus.

Amir:

Tidak. Saya tidak percaya ini semata persoalan duit. Kalo cuma persoalan duit, bukankah mereka bisa melakukan hal lain yang lebih menghasilkan tanpa harus mengindahkan cibir dan caci maki yang mereka terima sekarang? Ada pretensi lain yang ingin dicapai, dan itu membuat kelompok tetaplah penting. Barangkali bukan kekuasaan yang cenderung korup, tapi segelintir orang yang berada di balik itu dengan niat yang busuk yang membuat satu kelompok menanggung buruknya. Tapi itu lebih baik daripada semata berpangkutangan, tidak melakukan apa-apa, terutama ketika segala batas ideal sudah tidak lagi nyata. Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.