Fairy Vearth

Jejak Luka dalam Aksara

Jarak

Pernah sekali di masa lalu aku membaca. Bahwa keriuhan dan sesuatu yang hadir dalam kebersamaan hanya membuat orang lupa. Tentang makna, tentang rasa percuma, tentang hal-hal yang dalam obrolan tak pernah ada. Karena itu Diandraku, dalam kesendirianku di tulisan ini, aku ingin mengingat kembali semuanya. Meski itu berarti meninggalkanmu sebelum usai cerita.

Orang bilang, kemiskinan terburuk adalah kesendirian dan kehilangan cinta. Tapi barangkali itulah harga yang harus kubayar untuk mendapatkan kembali ingatan tentang apa yang kulupa. Ingatan tentang betapa hidup hanyalah kesunyian gerak yang tak bisa dihayati secara bersama-sama. Ingatan bahwa nasib bisa saja percuma, karena toh pada akhirnya semuanya hilang dan fana. Ingatan bahwa makna tak pernah datang dari kebanalan orang-orang sekitar kita. Meski orang itu Diandraku, adalah dirimu adanya.

Karena itu hari ini aku melepaskanmu. Memberi jarak pada pelukan dan rasa rindu. Kebersamaan ini melukai ingatanku. Ia mendekatkanku pada apa yang berharga hanya ketika itu tentang dirimu. Sedang aku ingin udara yang kuhirup setiap kalinya adalah tualang baru. Aku ingin peristiwa yang kudapati adalah kemurnian gambar di mataku. Aku ingin diriku utuh dengan sakit, luka, sunyi, sia-sia, serta segenap hal yang mengelak dari keinginanmu. Aku ingin sesuatu yang itu justru tak jua kudapati ketika bersamamu.

Sebab cinta ini perlahan menjadi surga yang melenakan. Sedang aku butuh rasa sakit untuk mengingatkan. Bagiku, hanya ia yang paling sering luka dan sendiri, kan paling mengerti makna dari cinta dan sunyi. Aku pergi Diandraku. Menjemput ingatan dan hal-hal remeh yang terlanjur berceceran. Menajamkan jarak dan segala hal yang kau tolak dalam kewarasan. Aku pergi Diandraku. Hingga hari di mana jarak tidak lagi memberiku kebebasan. Dan seperti cinta, ia hanyalah satu dari segala yang lumrah dalam kenyataan.

Manisi, Desember 2011

Filed under: Catatan Cinta , , ,

November

Sudah lama rasanya aku tidak menulis. Tidak ada yang bisa kuungkapkan selain kenyataan bahwa waktuku akhir-akhir ini seperti hilang dalam altar kecemasan akan persoalan yang sama. Hidupku tak kunjung beranjak dari garis yang seharusnya bisa kutelikung arahnya. Di sela itu pula, aku lupa bagaimana mengolah aksara menjadi penanda tentang warna hidup dan kisah kita. Apa kabarmu Diandraku? Masihkah dirimu di tempat itu, duduk menunggu November dan termangu?

Barangkali setiap kita selalu menemui hitungan usia baru dengan ingatan yang terkikis. Masa lalu pada akhirnya hanya berharga sebagai tanda yang mengingatkan akan kesunyian hari ini. Karena itu aku tak mengerti bagaimana mengukur kenangan diri, pun untuk semata kilah di tengah ketidakmampuanku menghadapi apa yang akan terjadi. Tapi mungkin ini pula yang membuatku terus berharap semoga kau baik-baik saja. Dan tidak ada kenyataan ketiga yang melukai doa.

Apa kabarmu Diandraku? Masihkah ingatanmu menyisakan ruang untuk diriku? Untuk setiap detil peristiwa di senja November itu. Saat lembayung luruh dan hati bergemuruh. Saat aku terdiam dalam ribuan detik mencari kekuatan untuk menahan basah di pelupukku. Sementara kau tersenyum menggenggam jariku dan mengangkatnya seraya menunjuk ke angkasa. Di udara senja yang tak bersuara itu kau menuntunku menuliskan cinta. Dan kau bilang, biarkan angin yang merawat aksaranya. Menjaganya dari setiap keruh hari dan alpa diri. Hingga kita tiba pada senja yang sama, dan membaca lagi apa yang kita tuliskan di sana.

Hanya saja aku tak pernah menemukan senja itu lagi. Dan setiap November adalah sunyi dan retak kenangan yang tak mampu kuutuhkan. Aku hanya bisa memandang udara di hadapan dan membayangkan aksara yang dulu kembali memenuhi rasaku. Lalu, jika sempat, kutuliskan kembali di lembaran yang aku tahu tak akan bertepi di dirimu. Tapi ia kutuliskan, Diandraku, agar kau mengerti bahwa di November ini ada harapanku, ingatanku, dan segenap doa yang terulur santun mencari hatimu.

Manisi, November 2011

Kenz.

Filed under: Catatan Cinta , ,

Ingatan – Surat 3

Pagi, Diandraku. Bagaimana tidurmu semalam? Apa kabarmu hari ini? Adakah mimpi baik yang kau temui? Apa yang kau sematkan di hatimu pagi ini?

Sedikit sekali waktu akhir-akhir ini untuk bertanya hal-hal seperti itu. Entahlah, mungkin karena aku terbiasa menghabiskan kata dan pikiran untuk hal-hal dan peristiwa yang tampak besar. Lalu terlupa pada apa yang terlihat oleh diri dalam nanar. Mungkin juga karena ingatan jarang berpihak pada sesuatu yang selesai dengan sendirinya. Sesuatu yang tidak memerlukan segenap daya, sesuatu yang tidak membutuhkan doa. Hingga ia pun tak sering kita sapa.

Apa yang salah dari ingatan? bagaimana mengukur kenangan? Ingin sungguh aku mendengar ada yang berbicara tentang itu semua, Diandraku. Ingatan barangkali membuatku harus menulis hari ini tentangmu, lalu besok ia menghadirkan fragmen lain yang membuatku alpa akan dirimu. Salahkah itu Diandraku? Aku tak pernah mengerti. Sejauh kupikirkan, ingatan hanya menoleh pada berat-ringan kenangan dan tidak peduli akan hal-hal yang tak memiliki ukuran. Dan bagaimana mengukur kenangan dari yang terlontar begitu saja dalam sapaan?

Dulu aku meyakini bahwa kenangan adalah tentang apa yang telah selesai dan apa yang belum sempurna terjadi. Tapi ternyata tidak begitu akhir-akhir ini. Kenangan selalu menjauh dari definisi. Ia datang ketika pikiran mencampakkannya, dan berlalu saat pikiran menginginkannya. Kenangan buruk serupa hantu saat mengingatnya, dan yang baik adalah kita yang menjadi hantu baginya.

Barangkali, apa yang bermakna dari kenangan adalah ia yang membuat kita berbeda dengan dewa. Kenangan bisa membuat kita tertawa di suatu masa, dan membuat kita tersedu di lain waktu. Setiap titik detik pada akhirnya begitu berharga, jika saja kita ingat bahwa ia tak akan kita temui untuk kedua kalinya. Dengan kenangan, maka aku dan kau masih manusia. Kita bukan dewa dengan waktu dan segenap peristiwa yang menyatu. Kita hadir dalam kejadian dan ingatan yang terpilah lagi tak berurutan. Apa yang hitam sedetik kemudian bisa bertambah kelam, dan berubah terang untuk kemudian kita lupakan.

Sebab itu, Diandraku.. Aku tak ingin membahasnya terlalu lama. Aku takut ia terungkap begitu dalam, lalu untuk waktu yang lama ia kan terpendam. Pagi ini, di antara kilas kenangan yang berlarian satu-satu, aku hanya ingin bertanya; Adakah dirimu yakin akan setia, menjadi ingatan yang menemaniku hingga akhir usia?

Manisi, Juni 2011

Kenz

Filed under: Catatan Cinta, Renung , , , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.